9 Tahap Menulis Postingan Yang Bagus Untuk Situs Web Agar Mendapat Peringkat 1 Di Google

9 Tahap Menulis Postingan Yang Bagus Untuk Situs Web Agar Mendapat Peringkat 1 Di Google

Gara-gara makin populernya dunia blogging, banyak orang yang kesengsem untuk membuat artikel.

 

Membuat artikel itu sepertinya mudah…

 

…tinggal ngetik.

 

Tapi jangan anggap remeh.

 

Membuat artikel yang menawan itu tidak mudah.

 

Apalagi untuk situs web!

 

Website beda dengan buku. Saat orang-orang browsing website, mereka biasanya membenci baca postingan yang terlalu panjang.

 

Inilah masalah paling besar dari pemilik website dan blog.

 

Sudah capek-kelelahan bikin artikel…

 

Tidak ada yang baca hingga simpulan…

 

Lalu tidak ada yang berkunjung ke websitenya…

 

Akhirnya postingan mereka gagal mendapatkan peringkat di Google. Meskipun telah belajar yang namanya SEO.

 

Tapi jangan khawatir, ada solusinya.

 

Di dalam bimbingan ini saya akan mengajarkan anda bagaimana cara menulis postingan yang tidak menjemukan bagi pengunjung website.

 

Mari kita mulai.

 

 

0. Lupakan SEO

 

Kalau anda baca di situs-situs lain, katanya agar website kita banyak yang baca, maka artikelnya mesti dioptimasi untuk mesin telusur atau SEO.

 

Istilahnya “artikel SEO-friendly”.

 

Sayangnya, rancangan ini telah ketinggalan jaman.

 

Yang terjadi justru sebaliknya.

 

Mereka yang mengaplikasikan teknik SEO (jadul) justru gagal, dan mereka yang melewatkan SEO ketika menulis artikel justru mendapatkan peringkat tinggi.

 

Gila kan?

 

Ini alasannya mereka yang konsentrasi dengan SEO secara tidak sadar malah menciptakan postingan untuk mesin.

 

Artikel yang tidak mempesona dibaca oleh insan.

 

Oleh sebab itu, dalam tutorial ini saya mengajak anda untuk melupakan SEO-friendly dan konsentrasi ke “human-friendly”.

 

Dulu, yang kita anggap sebagai postingan SEO yakni yang seperti ini:

 

 

    1. Memiliki keyword density sekian persen

 

    1. Panjang sekurang-kurangnya300/500 kata

 

    1. Bold, underline, italic di setiap keyword

 

    1. Keyword di judul, paragraf pertama, paragraf terakhir

 

    1. Keyword di meta description

 

    1. Menggunakan subheader (h2-h6) yang berisi keyword

 

 

Tapi sekarang…lupakan semua aturan tadi.

 

Ini alasannya adalah:

 

Google menggunakan sikap manusia untuk menentukan peringkat di hasil pencarian

 

Bingung?

 

Maksud aku begini…

 

…ketika kita (insan) membaca postingan, kita tahu terang bedanya antara yang cantik dan buruk.

 

Artikel yang bagus umumnya dibaca dalam waktu lama, sering diusulkan kepada orang lain, dan pembaca tidak butuhmencari postingan lainnya lagi.

 

Google bisa menerjemahkan perilaku ini menjadi data.

 

Data perilaku inilah yang digunakan untuk menentukan peringkat.

 

Makanya aku bilang Google memakai perilaku manusia.

 

Sudah mampu tujuannya?

 

Ini gambarnya semoga agak lebih terperinci lagi:

 

Bagaimana Google menilai artikel

 

 

 

Mari kita balik lagi ke 6 aturan jadul di atas…

 

Anggaplah anda menulis buku.

 

Buku fisik, bukan website.

 

Apakah memakai banyak bold, italic, underline, dan keyword density tertentu mampu menciptakan buku anda jadi lebih menawan?

 

Mestinya tidak kuat.

 

Emangnya iya kalau kita nulis kata ABC sekian kali kemudian artikelnya tiba-tiba jadi lebih menawan?

 

Nggak logis…

 

Justru bila menggunakan suatu kata secara berlebihan malah akan membuat insan yang membaca artikel anda jadi lebih terusik.

 

Akibatnya, mereka tidak jadi baca.

 

Nah, alasannya adalah kita sudah tahu bahwa artikel di website SAMA dengan artikel di buku (sama-sama dinilai oleh insan) maka caranya mesti sama.

 

Anda harus melalaikan teknik SEO jadul dan konsentrasi terhadap manusia.

 

Itulah postingan yang akan bisa jadi trend, dibaca banyak orang, dan menerima peringkat tinggi di mesin telusur.

 

Inilah caranya.

 

1. Pelajari huruf calon pembaca

 

Beda topik, peminatnya juga beda.

 

Anak muda, sampaumur, secara umum dikuasai laki-laki, lebih banyak didominasi perempuan, dan lain-lain.

 

Misalnya artikel perihal “keuangan” mungkin pembacanya usia 25 ke atas, ya kan? Lalu postingan perihal game peminatnya lebih muda.

 

Kaprikornus cara nulisnya juga beda.

 

Repot ya…

 

…Untuk apa sih kita mesti mempelajari huruf?

 

Tujuannya semoga anda mampu menyesuaikan isi artikel khususnya gaya penulisan dengan huruf pembaca anda.

 

Dengan kata lain:

 

Supaya artikel anda yummy dibaca.

 

Supaya pembaca tidak jenuh.

 

Contohnya, jika pembaca anda dominan anak muda, anda gunakan bahasa yang lebih kalem. Kalau anda kaku, maka mereka bakal merasa asing.

 

Kalau telah begitu, mereka akan pergi.

 

Ada satu hal lagi, anda tidak mesti menulis sesuai EYD seperti yang diajarkan bu guru di sekolah.

 

Yang penting lezat dibaca.

 

Mari kita balik ke huruf pembaca…

 

Untuk mengenali demografi pembaca situs web, anda mampu lihat dari beberapa media berikut:

 

 

    1. Google Analytics (Audience > Demographics > Overview)

 

    1. Situs komunitas dimana orang-orang yang antusias terhadap topik anda berkumpul

 

 

Demografi PanduanIM

 

Gambar di atas merupakan demografi pembaca situs ini.

 

Diambil dari Google Analytics.

 

Dari situ aku bisa tahu bahwa pembaca situs PanduanIM ini yaitu secara umum dikuasai pria berumur 18-24 tahun. Tulisan saya juga menyesuaikan.

 

2. Pancing pembaca dengan judul yang menarik

 

Tahukah anda…kalau ada 100 orang yang mampir ke website anda, 80 orang akan membaca judul artikelnya.

 

Tapi hanya 20 orang yang lanjut baca isinya.

 

Parah ya.

 

Artinya anda kehilangan peluangpembaca yang sungguh besar.

 

Coba kita ingat kembali saat melaksanakan penelusuran di Google. Apa yang menciptakan kita memilih salah satu website?

 

Judulnya…ya kan?

 

Judul dilihat pertama kali

 

Kaprikornus pertempuran kita dimulai dari judul.

 

Kalau artikelnya manis, sebagus apapun, jikalau judulnya jelek maka tidak akan ada yang membaca.

 

Satu hal lagi:

 

Kalau kita bicara rangking. Judul juga salah satu aspek terbesar yang mau membuat peringkat postingan anda di Google jadi tinggi.

 

Lihat gambar berikut untuk memahami logikanya:

 

Peringkat dan jumlah klik

 

Google mengikuti perilaku manusia…

 

Manusia akan mengeklik judul yang lebih menawan…

 

Maka bila manusia menilai artikel kedua lebih baik, maka Google akan menaikkan peringkat postingan tersebut jadi ke peringkat satu.

 

Itu logikanya, sekarang kita lihat caranya.

 

Misalkan jika anda search di Google dengan keyword “cara mengusir lalat”, kemudian di peringkat 1-3 ada postingan berjudul seperti ini:

 

 

    1. 5 Cara Mengusir Lalat

 

    1. 5 Cara Mudah untuk Mengusir Lalat dari Rumah dalam 30 Menit

 

    1. Tutorial Tips Cara Mengusir Lalat Secara Alami Terbaru Terlengkap

 

 

Judul artikel pertama…biasa.

 

Format penulisan judul seperti nomor 1 terlalu tolok ukur, tidak ada aspek X yang menciptakan orang lain terpesona untuk membaca.

 

Sekarang kita lihat judul kedua:

 

Ada kata-kata mirip “simpel” dan “dalam 30 menit”.

 

Dari judulnya kita bisa membayangkan bahwa artikel kedua punya nilai lebih dari artikel pertama. Kalau saya hanya boleh baca 1 artikel, aku akan pilih yang kedua.

 

Judul pertama itu menyerupai makan tahu.

 

Judul kedua ibarat makan tahu + kecap.

 

Manusia yang melakukan penelusuran di Google selalu ingin solusi terbaik dan termudah dari permasalahan mereka.

 

Inilah yang mesti kita tawarkan.

 

Karena itu, di judul mesti ada “kecapnya”.

 

TAPI bukan cuma judulnya saja…

 

Artikel anda juga harus ada kecapnya.

 

Kalau anda menulis mirip pola di atas (tips simpel 30 menit), maka isinya juga harus sesuai dengan judulnya. Jangan menipu pembaca.

 

Oh ya, kita belum diskusikan judul ketiga.

 

Intinya sih jangan buat judul seperti nomor tiga.

 

Judul ketiga ialah korban dari meningkatkan secara optimal berlebihan dengan memasukkan kata-kata yang tampakgempar, padahal justru jadi abnormal dibaca.

 

Ini tren konyol yang sering dijalankan blogger Indonesia.

 

Jangan pernah gunakan judul ke-3.

 

Untuk cara ngeceknya, coba ucapkan judul tersebut. Kalau tidak lazim diucapkan, bermakna judulnya asing, jangan dipakai.

 

Teknik pengerjaan judul sangat penting.

 

Bahkan alasannya pentingnya maka saya membuat 1 artikel khusus yang membicarakan judul. Silahkan baca 7 teknik pengerjaan judul konten ini.

 

3. Artikel anda tidak akan dibaca kata-per-kata, lakukan ini untuk mengakali

 

Saya tadi sempat bilang ini:

 

Artikel di situs web beda dengan buku.

 

Saat baca buku atau koran atau majalah, kita memang sedang ingin fokus membaca.

 

Di internet tidak demikian.

 

Di internet, orang-orang ingin bergerak dengan cepat dari situs web A ke situs web B. Maka mereka tidak akan membaca postingan kata per kata.

 

Anda pun juga pasti telah melalui sebagian besar goresan pena di atas.

 

Ini wajar.

 

Pola pembaca ini diberi nama F-shaped pattern, alasannya adalah seperti huruf F.

 

Makara mereka melaksanakan scanning secara vertikal, lalu saat memperoleh kalimat yang mempesona barulah mereka membaca secara horizontal.

 

Gambar berikut ini didapatkan dari penelitian menggunakan alat pelacak gerakan mata saat membaca konten di situs web.

 

f_reading_pattern_eyetracking

 

Seperti terlihat dalam gambar, sebagian besar orang hanya membaca lengkap di bab atas. Semakin ke bawah, makin sedikit yang mereka baca.

 

Seperti karakter F kan?

 

Sebagai penulis, kita ingin mengurangi yang mirip ini.

 

Kita ingin agar mereka membaca selama mungkin.

 

Alasannya penting:

 

Semakin usang mereka menghabiskan waktu di situs web anda, maka akan tercipta “ikatan” yang berpengaruh antara anda dengan pembaca.

 

Pembaca akan semakin “cinta” dengan anda dan tulisan anda.

 

Untuk itu, ada 2 cara untuk menyiasati.

 

Jangan ikuti saran dari guru Bahasa Indonesia

 

Sebuah paragraf semestinya berisikan sekurang-kurangnya5 kalimat dan mesti mengandung sebuah ide pokok. Kalau tidak, saya beri nilai nol.

 

Itu waktu di sekolah.

 

Ini tidak cantik untuk postingan di website.

 

Kenapa?

 

Karena paragraf yang berisi terlampau banyak tulisan akan membuat mata letih.

 

Karena itulah seharusnya satu paragraf untuk artikel website maksimal 3-4 baris (bukan kalimat), dengan panjang horizontal tidak lebih dari 20 kata.

 

Selain paragraf singkat, anda juga mampu memakai subheader untuk memangkas atar bagian biar artikel anda jadi lebih “ringan”.

 

Lihat gambar ini sebagai perbandingan:

 

Paragraf panjang vs pendek

 

Lebih enak mana, baca yang kiri atau yang kanan?

 

Yang kanan, niscaya.

 

Terapkan inverted-pyramid (piramida terbalik)

 

Mulai nulis itu sukar.

 

Apa yang ditulis duluan? Apa berikutnya? Apakah ini perlu dibahas atau tidak?

 

Bingung.

 

Untungnya, ada suatu metode yang mampu memperjelas kebingungan anda.

 

Metode piramida terbalik.

 

Metode ini sering dipakai oleh jurnalis untuk membuat berita yang menawan untuk dibaca.

 

Teknik ini akan kita manfaatkan.

 

Kira-kira seperti ini:

 

Piramida Terbalik

 

Bagian atas (depan) postingan mesti mengandung citra utama dari postingan anda dan argumentasi mengapa mereka harus membaca postingan tersebut lebih lanjut.

 

Paham maksudnya?

 

Kaprikornus di bab awal artikel mesti ada sebuah berita berupa “faedah” dan “iming-iming” agar pembaca mau melanjutkan membaca sampai habis.

 

Lalu di tengah postingan kita jelaskan lebih lanjut detailnya.

 

Butuh teladan?

 

Coba scroll sedikit ke atas ke awal bab sistem ini.

 

Di permulaan saya menjelaskan bahwa sistem ini bisa menolong anda mengatasi kebingungan dan bisa digunakan untuk menciptakan postingan yang menawan.

 

Itu manfaat dan iming-imingnya.

 

Dengan demikian akan bertambah banyak pembaca yang akan melanjutkan membaca hingga simpulan.

 

4. Ikuti format berikut agar tulisan anda terbaca

 

Saya sering nemu postingan seperti ini:

 

Topiknya menawan.

 

Tapi tulisannya SUSAH dibaca.

 

Akhirnya walaupun sepertinya menawan tetapi jadi susah dibaca.

 

Coba deh, apa perasaan anda bila anda mesti membaca artikel yang:

 

 

    • Hurufnya terlalu kecil

 

    • Jarak antar barisnya kecil

 

    • Menggunakan jenis font yang merepotkan dibaca

 

 

Sebagus apapun isi artikelnya, percuma bila tidak terbaca.

 

Saya sering dengar orang-orang berusia 40+ yang mengeluh saat membaca artikel di depan komputer, katanya terlalu kecil dan sukar dibaca.

 

Jangan menyiksa mereka.

 

Gunakan font dan ukuran yang mudah untuk dibaca.

 

Font-font mirip Arial, Helvetica, Open Sans, Roboto, Georgia, merupakan font yang umum dipakai di situs web, gunakan font mirip ini daripada yang tidak lazim.

 

Kalau gundah, lebih baik tidak usah gunakan font khusus.

 

Lebih jelasnya:

 

 

    • Gunakan font yang gampang dibaca atau tidak usah gunakan font khusus bila anda gundah

 

    • Ukuran antara 14-22px

 

    • Lebar horizontal antara 480-720px

 

    • Line-height antara 1.5-2em

 

    • Margin di bawah paragraf antara 1.5-2em

 

 

Itu secara tulisan…

 

…masih ada lagi.

 

Ini beberapa cara yang bisa anda kerjakan semoga postingan anda jadi lebih gampang dibaca:

 

 

    1. Gunakan banyak gambar

 

    1. Gunakan subheader biar artikel panjang menjadi bagian-bab yang lebih kecil

 

    1. Gunakan list (mirip ini)

 

 

5. Tingkatkan kualitas dan bobot isi postingan anda

 

Akhirnya, kita masuk ke inti utama dari postingan ini.

 

Bobot dan mutu yaitu faktor utama penentu bagus-tidaknya artikel anda.

 

Semakin berbobot postingan anda, maka pembaca semakin puas.

 

Masuk akal kan?

 

Enak mana baca 1 postingan dapat isu yang lengkap atau baca 10 artikel yang isinya sepotong-sepotong dan bikin gundah?

 

Enak yang pertama.

 

Untuk membuat artikel berbobot yang mampu membuat puas pembaca anda harus melakukan riset.

 

Tapi masalahnya ini:

 

Artikel yang berbobot hanya bisa dibentuk oleh penulis yang paham betul perihal topiknya.

 

Anda tidak akan mampu menciptakan postingan yang berbobot tanpa memahami apa yang dibahas dan cuma bermodal contek sana contek sini.

 

Solusinya gampang…

 

Kalau anda bukan seorang ahli dalam topik postingan yang akan anda buat, perbanyak waktu untuk membaca artikel-artikel lain yang sejenis.

 

Kemudian gunakan sistem KTP untuk membuat konten bermutu.

 

Tahap riset ini sering dilewatkan oleh blogger.

 

Oleh alasannya adalah itu, sayangnya, di Indonesia masih banyak postingan-artikel yang tidak berbobot.

 

Salah satunya teladan berikut:

 

Artikel ini aku dapatkan di Google, topiknya yaitu “cara mengembangkan produktivitas“.

 

Coba amati inti dari artikel tersebut:

 

 

    1. Pengertian produktivitas

 

    1. Pentingnya produktivitas

 

    1. Bangun lebih pagi

 

    1. Miliki tujuan

 

    1. Belajar dari orang lain

 

    1. Hindari merasa kewalahan

 

    1. Ambil waktu beristirahat

 

    1. Berdoa sebelum melakukan pekerjaan

 

 

Ini verbal saya setelah baca artikel tadi:

 

Facepalm

 

Mari kita bedah satu per satu inti dari artikel tadi (tanpa berencana menjelekkan penulisnya):

 

 

    1. Pengertian produktivitas — Kalau seseorang mencari isu tentang cara mengembangkan produktivitas, mereka TIDAK perlu diberitahu apa itu pemahaman produktivitas, mereka sudah paham.

 

    1. Pentingnya produktivitas — sama mirip nomor 1

 

    1. Bangun lebih pagi — ya iyalah, ini sih telah terperinci

 

    1. Miliki tujuan — kalau nggak punya tujuan ya telah pasti tidak bisa produktif

 

    1. Belajar dari orang lain — justru baca postingan ini sebab mau berguru, kok malah disuruh mencar ilmu ke orang lain lagi

 

    1. Hindari merasa kewalahan — siapa pun juga sudah tahu

 

    1. Ambil waktu beristirahat — sama seperti nomor 6

 

    1. Berdoa sebelum bekerja — kalau orangnya religius, berdoa memang manis, tapi ini bukan langkah yang mampu mengembangkan produktivitas

 

 

Sudah terperinci?

 

Mari kita diskusikan lebih lanjut.

 

Jenis postingan yang biasa di internet ada 2:

 

Informasi atau tutorial.

 

Kalau artikel berupa tutorial, isinya mesti sungguh-sungguh bisa menjadi tutorial.

 

Bukan sekedar bacaan…

 

…harus bisa langsung dipakai untuk menyelesaikan permasalahan.

 

(Contoh postingan tadi mestinya sih panduan)

 

Artikel bimbingan yang bagus isinya dapat digunakan selaku pemikiran pegangan saat pembaca akan melaksanakan sesuatu yang berhubungan dengan artikel tersebut.

 

Misalnya:

 

 

    • Resep makanan yang bisa eksklusif dilakukan saat mereka mengolah makanan

 

    • Panduan membeli HP bekas yang bisa dijadikan panduan saat berbelanja HP bekas

 

    • Cara meningkatkan produktivitas kerja yang mampu eksklusif dilaksanakan untuk mengembangkan produktivitas

 

 

Kalau kita hanya memberikan berita yang tidak berbobot (mirip pola di atas), maka artikel anda tidak bermanfaat.

 

Kembali ke teladan artikel di atas.

 

Setelah membaca isi postingan tersebut kira-kira apa yang dilakukan pembaca?

 

Apakah produktivitas mereka meningkat?

 

Saya rasa mereka langsung menutup tab browser tanpa melaksanakan apapun yang mampu memajukan produktivitas, lalu eksklusif lupa isinya dalam 10 menit.

 

Ada beberapa bimbingan yang mampu anda baca sesudah ini untuk menciptakan konten yang berbobot:

 

 

 

 

 

 

Satu hal lagi yang perlu anda ingat:

 

Artikel berbobot lazimnya  lebih panjang, tapi artikel yang lebih panjang belum tentu berbobot

 

Ada kesalahan fatal yang sering dilaksanakan oleh penulis konten, ialah menulis terlalu banyak basa-basi karena ingin mendapatkan jumlah kata tertentu.

 

Ini gara-gara orang bilang postingan panjang = manis untuk SEO.

 

Tapi yang penting bergotong-royong bukan panjangnya, namun bobotnya.

 

Berikut 2 teladan komposisi postingan:

 

Artikel A vs B

 

 

    • Artikel A hanya dibentuk untuk sekedar mencapai jumlah kata tertentu tanpa memberikan faedah

 

    • Artikel B dibentuk untuk mengedukasi. Melalui proses riset dan penyusunan rencana yang mendetail sehingga akhirnya “berdaging”

 

 

Sadar atau tidak, banyak penulis yang membuat Artikel A.

 

Karena mudah…

 

Tinggal basa-bau.

 

Untuk menciptakan postingan B, anda mau-tidak-mau harus paham perihal topiknya. Kalau tidak, maka postingan anda tidak akan mampu “mengajarkan” sesuatu terhadap orang lain.

 

Karena itulah ikuti Metode KTP ini sebelum menulis postingan.

 

Tapi bagaimana kalau topiknya cuma mampu dibahas singkat?

 

Gampang:

 

Jangan dipanjang-panjangkan.

 

Topik sangat berpengaruh dengan panjang artikel.

 

Kalau topik yang anda pilih memang sempit, maka artikelnya memang akan jadi pendek.

 

Tapi ini berlaku sebaliknya juga:

 

Kalau topiknya besar, jangan buat artikel yang pendek (sebab malas). Ini karenanya artikel yang tidak berbobot.

 

 

Atau kalau bisa, pilihlah topik yang memang mampu dibahas jadi panjang. Karena rata-rata memang artikel panjang menerima hasil yang lebih elok di search engine:

 

Panjang artikel

 

Ini gambar penelitian yang memberikan bahwa artikel di halaman 1 Google ketika ini rata-rata panjangnya melebihi 2000 kata.

 

Saya simpulkan:

 

Kalau mampu, pilih topik yang luas.

 

Lalu buat postingan yang berbobot.

 

Tapi kalau memang topiknya singkat, jangan dipanjang-panjangkan.

 

6. Temukan dan gunakan keyword LSI

 

Sejujurnya aku belum mau diskusikan yang ini…

 

…tapi banyak pembaca yang protes, kenapa aku tidak diskusikan perihal SEO padahal ini tutorial membuat artikel website.

 

Oleh alasannya adalah itu, kini kita masuk ke teknikal SEO.

 

(jikalau anda belum tahu SEO, saya sarankan baca ini dulu)

 

Ini salah satu tips paling ampuh untuk menciptakan keyword yang mampu mendapatkan peringkat tinggi.

 

Ada 2 manfaat menggunakan keyword LSI:

 

 

    • Mendapatkan peringkat untuk aneka macam long tail keyword

 

    • Meningkatkan relevansi & rangking untuk kata kunciutama

 

 

Untuk anda yang belum pernah mendengar ungkapan ini, mari kita diskusikan dahulu…

 

…apa sih LSI?

 

Singkatnya, LSI (Latent Semantic Index) adalah fitur yang diadopsi oleh mesin pencari mirip Google biar mampu mengetahui maksud dari artikel.

 

Misalnya “Apple”.

 

Istilah Apple mampu ambigu antara buah atau nama perusahaan.

 

Mesin pencari mampu membedakan mana yang buah dan mana yang perusahaan dengan cara membaca kata-kata yang mengelilingi kata utamanya.

 

Apple LSI

 

Kaprikornus jika anda mencari di Google dengan kata kunci “apple store”, maka Google paham yang dimaksud bukan toko buah apel melainkan tokonya perusahaan Apple.

 

Tapi apa kekerabatan LSI dengan SEO?

 

Begini…

 

Masih ingat teknik SEO jadul tadi?

 

Mengulang-ulang keyword untuk mencapai persentase tertentu.

 

Daripada mirip itu, lebih baik manfaatkan kata kunciLSI untuk menginformasikan mesin pencari bahwa postingan kita berkaitan dengan yang diharapkan user.

 

Hasilnya, peringkat anda akan jadi lebih baik.

 

Pembaca juga jadi tidak merasa ajaib.

 

Teknik ini juga jadi lebih ampuh dibandingkan dengan SEO jadul (kata kuncidensity) alasannya kita tidak melakukan banyak pengulangan keyword yang sama.

 

Tidak cuma itu.

 

Anda juga akan mendapatkan rangking untuk berbagai kombinasi keyword LSI.

 

Mencari keyword LSI tidak sulit. Lakukan penelusuran di Google dengan keyword utama anda.

 

Dalam teladan ini saya gunakan “belajar gitar”.

 

Scroll ke bagian bawah. anda akan memperoleh ini:

 

Belajar gitar LSI

 

Inilah aneka macam variasi yang bisa anda gunakan.

 

Yang perlu anda perhatikan sekarang adalah penggunaannya.

 

Anda mampu tulis kalimat-kalimat yang menggunakan kata yang dicetak tebal. Tapi ingat, kalimat-kalimat anda mesti alami, menggunakan tata bahasa yang bagus.

 

Ini contohnya:

 

Hari ini kita akan belajar cara bermain gitar untuk pemula.

 

10 tahun yang kemudian saya pertama kali mencar ilmu bermain gitar secara belajar sendiri memakai suatu teknik yang sangat efektif sehingga saya bisa jadi hebat dalam 6 bulan. Kali ini aku akan mengajarkan teknik yang serupa semoga anda juga bisa jadi hebat dengan cepat.

 

Silahkan rencanakan gitar akustik atau klasik. Pertama-tama, kita akan berguru bermain melodi dari beberapa lagu gampang.

 

Ingat, anda tidak perlu menggunakan semuanya.

 

Menggunakan sebagian saja telah cukup, yang penting masuk akal.

 

7. Lakukan pemeriksaan tata bahasa dan ejaan

 

Kedengarannya sangat sepele, tapi bahwasanya sangat penting…

 

…terlebih alasannya adalah di Indonesia kita sangat jarang menggunakan bahasa baku dalam kehidupan sehari-hari.

 

Akibatnya, bahkan di situs-situs info pun banyak terjadi kesalahan.

 

Sepele memang, tapi saat terjadi kesalahan penulisan maka artikel anda eksklusif mendapatkan kesan tidak profesional. Ini berbahaya.

 

Bayangkan bila anda mendatangi sebuah situs web yang memasarkan produk seharga Rp 10juta, tapi ternyata di kontennya banyak terdapat kesalahan penulisan.

 

“Gimana mau dianggap serius, nulis aja nggak becus.”

 

Masalahnya lagi:

 

Untuk artikel berbahasa Indonesia kita belum punya software yang mampu menyelidiki kesalahan tata bahasa (grammar). Hanya ejaan yang mampu kita periksa.

 

Jadi satu-satunya solusi adalah mengusut secara manual.

 

Lakukan tahapan mirip berikut:

 

 

    1. Tulis postingan anda hingga selesai tanpa melaksanakan pemeriksaan

 

    1. Baca postingan anda dengan bunyi (bukan dalam hati)

 

    1. Perbaiki setiap kalimat yang terdengar janggal dikala diucapkan

 

 

Poin paling penting di nomor 2.

 

Ada 2 alasannya…

 

Pertama, karena jikalau anda membaca dalam hati maka kesalahan-kesalahan kecil akan terlewatkan.

 

Kedua, saya percaya ini niscaya terjadi, di artikel anda akan timbul BANYAK kalimat-kalimat yang terdengar asing ketika diucapkan. Keanehan ini gres akan muncul jika artikelnya dibaca dengan bunyi.

 

Ketika membaca, bayangkan anda sedang penyajian di depan biasa atau sedang bercerita dengan teman anda (tergantung jenis artikelnya).

 

8. Lakukan meningkatkan secara optimal on-page SEO yang lain

 

Lho katanya lupakan SEO, kok diskusikan SEO lagi?

 

Saat menulis, lupakan SEO. Tapi meningkatkan secara optimal on-page SEO ini kita lakukan SETELAH artikel akhir ditulis.

 

Lupakan SEO saat menulis, ingat SEO lagi saat selesai menulis.

 

Proses SEO ini tidak usang, paling-paling hanya menyantap waktu 1 menit. Tapi banyak orang yang terlalu pusing dengan ini dan mengabaikan yang lebih penting di atas.

 

Maka dari itu, ini aku diskusikan di simpulan.

 

Meta description

 

Meta description seringkali akan timbul di hasil penelusuran selaku ringkasan artikel anda. Ini mampu memajukan klik ke website anda bila dimanfaatkan dengan tepat.

 

Hati-hati:

 

Kesalahan terbesar dalam penulisan meta description yakni menumpuk terlampau banyak keyword.

 

Sebetulnya tidak perlu menambahkan keyword….

 

…namun jikalau anda memang ingin menulis keyword, jangan lebih dari 1.

 

Yang terpenting yakni teknik penulisannya bagaimana anda bisa memanggil calon pembaca untuk mengunjungi website anda.

 

URL

 

Umumnya URL situs web akan muncul secara otomatis, dibentuk sama dengan judul postingan anda. Tetapi beberapa orang (seperti aku) lebih senang menggunakan URL yang dimodifikasi.

 

Tips dalam penulisan URL:

 

 

    1. Mengandung kata kunciutama

 

    1. Tidak terlalu panjang

 

    1. Usahakan tidak mengandung preposisi

 

 

Gambar

 

Artikel tanpa gambar itu menjemukan.

 

Jangan mentang-mentang karena menulis postingan, lantas anda merasa tidak perlu menyertakan gambar. Entah alasannya adalah malas atau argumentasi lain.

 

Jangan pula sekedar untuk penghias.

 

Gambar dalam postingan untuk menunjukan rancangan yang susah diterangkan cuma dengan goresan pena.

 

Melihat lebih jauh, ini manfaat gambar dalam artikel:

 

 

    1. Tingkat bacaan jadi lebih tinggi (artikel dibaca lebih jauh)

 

    1. Share ke FB dan Twitter meningkat 216% dan 110%

 

    1. Jumlah retweet meningkat 35%

 

    1. Jumlah share di Facebook berkembang85%

 

 

Dalam HTML, gunakan atribut alt untuk gambar. Jika memang berafiliasi dengan gambarnya, gunakan kata kunciLSI dalam alt.

 

Link ke halaman lain dan ke website lain

 

Apabila memungkinkan, sertakan internal link ke artikel lain yang bekerjasama dengan topik postingan yang sedang anda tulis karena akan mengembangkan struktur situs web.

 

Selan internal link, link ke situs web lain juga sungguh penting.

 

Lihat alasannya di penjelasan on-page SEO ini.

 

9. Sekarang saatnya mencari pembaca

 

Banyak penulis postingan website yang merasa setelah menekan tombol ‘publish’ maka tugasnya tamat.

 

Belum, tantangan bantu-membantu gres akan dimulai.

 

Di hari yang sama dikala anda menerbitkan artikel, ada jutaan artikel lain yang juga diterbitkan.

 

Artikel anda tidak akan didapatkan jika tidak dipromosikan.

 

Kalau tidak ada manusia yang membaca, maka Google tidak akan tahu kualitasnya sehingga postingan anda tidak akan mendapatkan peringkat tinggi.

 

Makara jangan puas dahulu sesudah mempublikasikan artikel.

 

Tidak cukup menciptakan konten yang bermutu kemudian ditinggalkan begitu saja. Anda harus mendistribusikan artikel yang telah anda tulis barusan.

 

Bahkan situs web yang sudah berhasil pun secara konsisten mempromosikan kontennya.

 

Distribusi yang sempurna akan mengembangkan jumlah pengunjung anda sampai berkali-kali lipat.

 

Hasil distribusi

 

Ada beberapa tips mendasar yang mampu anda kerjakan untuk memasarkan konten:

 

 

    1. Beritahukan orang lain di jejaring sosial dan situs komunitas (forum). Jangan spam, kerjakan cuma jikalau ada yang membutuhkan berita terkait

 

    1. Pasang tombol share di setiap postingan untuk mempermudah pembaca sharing artikel

 

    1. Beritahukan ke akun Twitter yang membicarakan topik serupa

 

 

Ketiga kiat di atas hanya yang paling dasar.

 

Masih ada yang lainnya, baca panduan 13 teknik mempromosikan konten yang lebih lanjut.

 

Kalau anda membaca bimbingan menciptakan postingan ini hingga habis, anda mungkin akan tertarik dengan panduan-tutorial berikut: